Sleman (MAN 2 Sleman)- Sinergi antara madrasah dan orang tua menjadi salah satu kunci penting dalam mengantarkan murid meraih prestasi terbaiknya. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Parenting Wali Murid Kelas XI MAN 2 Sleman yang dilaksanakan pada Kamis (17/9/2026) di Aula MAN 2 Sleman.
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan kolaborasi antara madrasah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang murid, baik dalam aspek akademik, keagamaan, karakter, maupun pengembangan prestasi.
Dalam sambutannya, Kepala MAN 2 Sleman Drs. Wiranto Prasetyahadi, M.Pd., menegaskan bahwa pembentukan karakter dan kedisiplinan murid telah menjadi bagian dari berbagai program yang dikembangkan madrasah. Namun, upaya tersebut akan semakin kuat apabila mendapatkan dukungan dan pendampingan yang selaras dari keluarga.
“Pendampingan keagamaan dan karakter, termasuk disiplin, sudah kita tumbuhkan melalui berbagai program madrasah. Karena itu, sinergi dan kolaborasi dengan orang tua sangat dibutuhkan. Bersama-sama, kita ingin menjadikan murid MAN 2 Sleman sebagai generasi yang unggul dan berprestasi,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan tidak berhenti di lingkungan madrasah. Apa yang ditanamkan kepada murid di madrasah perlu diperkuat melalui pembiasaan dan keteladanan di rumah. Kesamaan visi antara orang tua dan madrasah akan menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih konsisten bagi murid.
Hadir sebagai narasumber, Ustaz Dr. Akhmad Nashir, M.Pd.I., yang mengajak para orang tua melihat kembali hakikat pengasuhan anak. Ia menyampaikan bahwa parenting pada dasarnya adalah “momong”, yakni proses mendampingi, merawat, membimbing, dan membersamai anak dalam perjalanan kehidupannya.
“Dalam proses mendampingi anak, terkadang ada sikap anak yang tidak menyenangkan. Hal itu jangan sampai mengurangi rasa syukur kita atas anugerah yang telah diberikan Allah. Apa pun kondisi anak-anak kita, mereka tetaplah anugerah,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan para orang tua agar memandang setiap pengeluaran untuk kebutuhan anak dengan perspektif keimanan. Nafkah yang diberikan kepada keluarga, termasuk untuk memenuhi kebutuhan anak, merupakan bagian dari amal yang bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Menurutnya, terdapat perbedaan cara pandang antara orang yang menjalani kehidupan dengan iman dan yang tidak menjadikan iman sebagai landasan. Bagi orang beriman, biaya yang dikeluarkan untuk keluarga bukan sekadar pengeluaran, melainkan dapat menjadi sedekah yang bernilai pahala.
“Biaya untuk anak harus diyakini sebagai bagian dari sedekah. Ketika kita membiayai pendidikan dan kebutuhan anak dengan niat karena Allah, insyaallah setiap pengorbanan itu memiliki nilai pahala,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Akhmad Nashir juga mengajak orang tua untuk mensyukuri kesempatan anak-anak menempuh pendidikan di MAN 2 Sleman. Selain memperoleh pendidikan agama, murid juga berada dalam lingkungan madrasah yang mengembangkan pendidikan inklusif.
“Bersyukurlah anak-anak sekolah di MAN 2 Sleman. Mereka tidak hanya diajari agama, tetapi juga berada dalam lingkungan inklusi yang dapat menumbuhkan empati dan mengajarkan mereka untuk saling bersyukur,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penutup yang menguatkan bahwa keberhasilan pendidikan murid merupakan tanggung jawab bersama. Madrasah memberikan ruang tumbuh, pembelajaran, pembinaan karakter, serta pengembangan potensi, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama dan utama dalam menanamkan nilai, keteladanan, dan kasih sayang.
Melalui kegiatan ini, MAN 2 Sleman terus membangun kolaborasi yang kuat dengan orang tua. Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung setiap murid untuk berkembang sesuai potensinya, memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, serta mampu menorehkan prestasi.
Bersama madrasah dan keluarga, setiap murid bukan sekadar dipersiapkan untuk berprestasi, tetapi juga untuk tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter, berempati, dan bermanfaat bagi sesama. (Qoma)