
Sleman (MAN 2 Sleman) – Semangat berkesenian dan kreativitas murid difabel netra MAN 2 Sleman kembali terlihat dalam rangkaian kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026) di Aula MAN 2 Sleman. Lima murid kelas X berhasil menghadirkan penampilan tari kreasi Midhat-Midhut yang menarik perhatian dan memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.Kelima murid yang tampil adalah Oktavia (X A), Yuniar (X B), Alifah (X C), Husna (X E), dan Syifa (X F). Dengan penuh percaya diri, mereka menampilkan gerakan tari yang diiringi musik, menunjukkan kekompakan serta keberanian dalam mengekspresikan diri melalui seni tari.
Penampilan ini menjadi istimewa karena seluruh penari merupakan murid difabel netra. Untuk mempersiapkan pertunjukan, mereka mendapatkan bimbingan dan latihan dari Ibu Niar Widha Paramplita, S.Pd., Guru Seni Budaya MAN 2 Sleman. Melalui proses latihan yang terarah, para murid mempelajari rangkaian gerakan, irama, serta koordinasi agar dapat menampilkan tarian secara kompak.
Salah satu hal menarik dalam pertunjukan tersebut adalah penggunaan kerincing yang dipasang pada kaki para penari. Bunyi kerincing berfungsi sebagai penanda pergantian gerakan sekaligus membantu mereka mengenali perubahan rangkaian tari. Dengan memanfaatkan petunjuk bunyi tersebut, para penari dapat menyesuaikan gerakan dan menjaga keselarasan selama pertunjukan berlangsung.

Penampilan Tari Midhat-Midhut ini bukan sekadar hiburan dalam rangkaian pembukaan PKKM, melainkan juga menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi murid untuk mempelajari, mengembangkan, dan menampilkan karya seni. Dengan pendampingan, metode latihan yang sesuai, serta dukungan lingkungan, setiap murid memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Sebagai madrasah inklusi, MAN 2 Sleman terus berupaya menghadirkan ruang pendidikan yang menghargai keberagaman dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh murid untuk mengembangkan bakat dan minat. Seni tari menjadi salah satu media pembelajaran sekaligus sarana ekspresi yang memungkinkan murid difabel netra menunjukkan kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan berkolaborasi.
Penampilan Oktavia, Yuniar, Alifah, Husna, dan Syifa menjadi bukti bahwa setiap murid memiliki potensi untuk bersinar dengan caranya masing-masing. Melalui semangat dan kreativitas mereka, MAN 2 Sleman kembali menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar memberikan kesempatan untuk belajar, tetapi juga memastikan setiap murid memperoleh ruang untuk berkarya dan berprestasi.
Berbeda bukan berarti terbatas. Setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, berkreasi, dan menginspirasi. (AQ)